MAKSIMALKAN KAWASAN TANPA ROKOK, MTCC UMMAT SAMBUT AJAKAN KERJASAMA DENGAN MTCC UMY

MTCC
Share this post

Tujuan hadirnya MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Center) yaitu untuk mengurangi akibat buruk dari rokok dengan mencoba untuk menampilkan potensi-potensi positif yang bisa ditawarkan untuk daerah. Salah satunya dengan menerapkan kawasan tanpa rokok untuk wilayah kampus. Baru-baru ini, MTCC Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengajak kerjasama MTCC Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) (23/5).

Ajakan kerjasama inipun disambut baik oleh pimpinan UMMAT. H. Arsyad Abd. Gani dalam sambutannya menyampaikan bahwa dulu ada peraturan gubernur (Pergub) tentang kawasan tanpa rokok untuk wilayah umum, perkantoran, rumah sakit, dan sekolah atau perguruan tinggi. “Untuk memaksimalkan peran MTCC dan menjalankan Pergub, sebagai masyarakat yang berkecimpung dalam amal usaha Muhammadiyah, kita harus mulai dari wilayah kampus. Seluruh warga kampus harus satu bahasa bahwa tidak boleh merokok”, tekan rektor UMMAT tersebut.

Dalam memaksimalkan perannya, MTCC melakukan pendekatan secara internal dan juga eksternal. Pendekatan internal berupa upaya menciptakan kawasan tanpa rokok di lingkungan kampus melalui program yang namanya tobacco- and smoke-free campus. Pendekatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran seluruh civitas akademika tentang bahaya merokok.

Untuk mendukung pendekatan internal, perlu adanya kebijakan universitas seperti penandatanganan pakta integritas (integrity pact) oleh pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa. Setelah ada kesepakatan, maka setiap pelanggaran yang dilakukan (dalam hal ini merokok) akan berimplikasi pada penjatuhan sanksi kepada yang bersangkutan.

Bagi pimpinan, dosen, atau karyawan sanksinya bisa berupa teguran hingga penundaan kenaikan pangkat, sedangkan untuk mahasiswa kita bisa berlakukan teguran hingga skorsing”, jelas Sahrul, SH., MH selaku ketua MTCC UMMAT.

Pendekatan selanjutnya yaitu pendekatan eksternal. Dengan pendekatan ini, MTCC dapat menciptakan banyak kawasan tanpa rokok dengan mengajak dinas terkait baik yang ada di propinsi, kota, maupun kabupaten. Hal yang bisa dilakukan seperti membuat peraturan daerah (perda) terutama untuk wilayah-wilayah strategis seperti pusat perkantoran, lingkungan pendidikan, rumah sakit, bahkan tempat-tempat wisata.

“Dengan demikian, upaya tersebut dapat mendukung program pemerintah daerah NTB yang berkaitan dengan halal and medical tourism mengingat di negara kita pada umumnya belum mencapai lima puluh persen kebijakan pemerintah yang mengatur tentang kawasan tanpa rokok”, ungkapnya.

Sebagai langkah konkrit dari kerjasama ini, MTCC UMMAT dan UMY bersama dinas kesehatan dan pariwisata akan mengadakan FGD (focus group discussion). Hasil FGD tersebut akan menentukan upaya selanjutnya sehingga dapat mempercepat terealisasinya rencana dan program MTCC. (Dhie)

Share This: